Bandung Kurang Terang

Untuk karena suatu keperluan, saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat di daerah Bandung dengan berjalan. Ada alasan tersendiri ketika saya memilih untuk berjalan, ketimbang menggunakan angkot atau ojek. Semisal, barangkali bila dengan berjalan kaki, saya akan lebih bisa menghayati dan melihat lebih dekat tentang bagaimana kota Bandung di waktu malam. Pengalaman yang menarik, terlebih jarang-jarang saya bisa mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di kota Bandung pada malam hari.

Ketika itu, saya jalan dari selepas stasiun Bandung, menyusuri jalanan di depan Pasar Baru, lalu ke jalan otista, hingga ke jalan dalem kaum dan berakhir di komplek masjid agung. Ketika itu, agak merinding juga mengingat sudah tidak terlalu ramai dengan orang dan jalanan di pinggir atau trotoarnya agak redup dengan penerangan seadanya. Adapun penerangan dari bangunan di sepanjang trotoar, masih tidak terlalu terang. Ini membuat saya agak was-was dan seram juga, khawatir terjadi apa-apa. Untunglah tidak terjadi apa-apa.

lead_large

Gambar dari Shutterstock.com

Pencahayaan di daerah perkotaan sudah lama didiskusikan, terlebih hal ini sangat berakibat kepada aspek yang lainnya. Yang paling mudah adalah tentang kriminalitas. Ada sebagian dari beberapa ilmuwan barat yang mengkorelasikan antara tingkat kecenderungan kriminalitas dengan pencahayaan di sebuah kota. Ini masih sangat debatable dan terbuka kemungkinan untuk opini-opini baru dan solusi lainnya. Hanya saja secara sederhana, korelasi ini dapat dipahami dengan mengandaikan bahwa kebanyakan kriminalitas terjadi di tempat gelap. Orang biasanya lebih leluasa untuk bertindak kriminal di tempat-tempat yang penerangannya tidak terlalu terang ; menyulitkan orang atau petugas keamanan untuk mengidentifikasi tersangka. Tetapi benarkah demikian?

Dulu, saya pernah membaca argument bang Poltak Hotradero yang menyoroti kebijakan wali kota Bandung yang akan menambah dan memperbanyak jumlah cctv yang ada di jalan-jalan atau di tempat-tempat tertentu di kota bandung, alasan Pak wali kota adalah agar tingkat kriminalitas bisa menurun, syukur-syukur menjadi tidak ada sama sekali. Tetapi kata bang Poltak Hotradero, kebijakan ini aneh, menambah jumlah cctv sementara penerangan di kotanya tidak diperhatikan. Dengan kondisi Bandung yang memang tidak terlalu terang-terang amat. Maksudnya, dengan argumen sederhana, beliau bilang, “Daripada menambah jumlah cctv mending memperbaiki penerangan dengan menambah kuantitas lampu di setiap jalan atau tempat di Bandung. Karena akan mubazir dengan banyaknya cctv sementara penerangan tidak diperhatikan. Dalam kondisi gelap atau redup, bukankah cctv juga tidak akan terlalu bisa bekerja optimal?” Tarohlah untuk mengidentifikasi gambar yang direkamnya, kan akan jadi buram dan gak jelas orangnya, ya kan?

Lalu, saya pikir ada benarnya juga pendapat dari bang Hotradero tersebut. Terlebih beliau pun menyodorkan beberapa jurnal ilmiah dan penelitian dari luar negeri yang menyebutkan tentang efektivitas dari penerangan lampu di kota yang mampu untuk menurunkan tingkat kriminalitas dan kejahatan. Dan sekarang, saya akan berusaha untuk memikirkan ulang tentang permasalahan ini. Maksudnya, tidak lebih dari sekedar mencari penjelasan yang logis tentang, apakah sebaiknya kota itu mendapatkan penerangan yang baik dan bagus, atau memang harus tidak terlalu terang?

Menurut Ren Katili, Dosen Architecture di Binus University, pernah mengatakan bahwa pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam sebuah kota. Selain bisa meminimalisir kecelakaan, pencahayaan yang tercover dengan baik juga berpotensi mengurangi kriminalitas.

Dia memberikan contoh, sebuah jalanan gelap dan kosong memungkinkan untuk menjadi tempat kriminalitas bagi para penjahat. Tetapi jika jalan tersebut cukup terang, orang jadinya akan merasa takut untuk melakukan kejahatan. Sehingga penerangan kota, ungkapnya, harus bisa memberikan kenyamanan siang dan malam. Bila penjahat tidak mau beraksi pada siang hari dikarenakan siang itu terang, maka tidak ada bedanya dengan malam yang diberikan penerangan dan jadinya terang. Ya kan?

Lanjut beliau, terdapat dua titik penerangan di kota yang harus diperhatikan. Pertama, penerangan berkonsep human comfort atau titik di mana masyarakat kota berkumpul. Halte bus, misalnya, merupakan salah satu tempat yang wajib diterangi.

“Zona nyaman manusia adalah sekitar 3 meter dari manusia lainnya. Artinya, jika ada penerangan yang cukup, sesama manusia akan merasa nyaman. Berbeda jika kondisi gelap, mereka akan takut satu sama lain meskipun tidak ada potensi berbuat jahat, akan ada saling curiga dan prasangka” Paparnya.

Lalu titik penerangan kedua adalah city image. Konsep ini berorientasi untuk menjadikan kota sebagai petunjuk arah bagi publik. Misal, petunjuk arah yang berada di sepanjang ruas jalan mesti mendapatkan penerangan yang baik. Selain akan memudahkan publik secara umum, penerangan juga menjadi faktor hidupnya sebuah kota. Bisa dibayangkan kota yang tiada penerangan seperti apa? Kota yang gelap, pasti akan tidak mengesankan dirinya sebagai sebuah kota.

Kemudian, Konsep city image ini juga menjadi luas dengan hadirnya penerangan berteknologi tinggi. Kini, kota memiliki pencahayaan yang bukan hanya berfungsi sebagai penerangan semata. Unsur estetika malah lebih ditonjolkan untuk mencapai seni pencahayaan yang menarik pandangan mata. Pada gilirannya, pengelolaan yang baik terhadap penerangan di kota bisa menjadikan penerangan itu dengan sendirinya sebagai suatu estetika atau keindahan tersendiri, seperti lampu-lampu atau penerangan yang ada di jembatan pasupati. Karena estetikanya, menjadikannya sebagai salahsatu tempat tujuan wisata atau sekedar untuk nongkrong dan berdiam diri disana, menikmati keindahan bandung pada malam hari. 🙂

tumblr_inline_mrg6rhu9K31qz4rgp

Gambar dari Tumblr

Kota yang memiliki penerangan yang bagus memang akan membuat kota tersebut seolah gemerlap dan terang sekali, yang menyebabkan penggunaan atau konsumsi terhadap energi menjadi tinggi. Dan alasan bahwa dengan penerangan ‘hanya’ akan mengurangi tingkat kriminalitas saja, rasa-rasanya masih kurang dari segi manfaatnya. Karena bila hanya tingkat kriminalitasnya saja yang dituju, akan ada dilematikanya tersendiri. Hal ini seperti yang disampaikan oleh studi baru-baru ini yang dilakukan oleh Departemen Perhubungan Chicago yang menemukan bahwa pemadaman lampu-lampu kota memiliki efek yang berbeda pada lingkungan yang berbeda, “For some of the community areas, there were not enough crimes in outage-affected areas to estimate the model,” artinya untuk beberapa tempat masyarakat, tidak akan ada cukup kriminalitas atau kejahatan yang terpengaruh oleh estimasi dari model atau asumsi sebelumnya. Ini berarti tingkat kriminalitas tidak di dasarkan pada penerangan (di setiap tempat), tetapi lebih merujuk kepada tempat-tempat tertentu yang memang terkenal sebagai tempat yang rawan kriminal. Dengan bahasa yang sederhana, hasil penelitian tersebut seolah bilang bila tempat tersebut aman, mau terang ataupun engga, bisa jadi tempat itu akan tetap aman. Jadi tidak perlu dipakaikan penerangan yang berlebih bila tempat itu memang sudah aman dari sananya.

Berdasarkan artikel di New York Times pada tahun 2011, yang menyebutkan bahwa, “Kota-kota besar bergulat dengan apa yang diharapkan setelah tahun kelima yang secara berturut-turut memperlihatkan penurunan pendapatan dan prediksi anggara yang telah habis, sehingga karenanya semakin mempertimbangkan sesuatu yang tidak pernah tersentuh ; lampu.” Di Detroit, jalanan yang gelap memainkan sebuah aturan di kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi dan berkontribusi terhadap persepsi bahwa hal itu adalah suatu yang berbahaya.

Penelitian tentang efek lampu jalan pada kejahatan menghasilkan temuan yang beragam. Sedangkan penelitian tersebut mendukung teori yang masuk akal bahwa penerangan jalan mampu untuk mengurangi tingkat kejahatan dan rasa takut akibat kejahatan tersebut, tetapi hasilnya menjadi lebih rumit dengan fakta bahwa instalasi atau pemasangan lampu jalan biasanya bertepatan dengan bentuk-bentuk lain dari investasi yang ada di daerah tertentu. Satu studi dari Lampu yang ada di gang Chicago menemukan kenyataan bahwa tingkat kejahatan benar-benar meningkat setelah pencahayaannya diperbaiki atau dibuat menjadi terang. Tetapi studi ini dibatasi hanya pada satu area uji yang berukuran delapan blok, dan yang menggunakan pencahayaan dari mulai 90 watt hingga 250 watt, daripada beralih dari gelap ke terang.

Kesimpulan dari New York Times ini mendapatkan sanggahan dari penelitian lain yang dilakukan oleh Campbell Collaboration yang mengatakan bahwa dengan meningkatkan penerangan lampu jalan, ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penurunan tingkat kriminalitas.

Gagasan bahwa pencahayaan yang ada di jalan mampu untuk menghalangi niat buruk dari pelaku kejahatan tampaknya merupakan sebuah argumen yang lemah dan terlalu sederhana, karena dengan memberikan penerangan di jalanan, setidaknya membuat lalu lintas dan pejalan kaki lebih mendapatkan haknya.

Temuan dari studi ini diperoleh dari 13 studi terhadap intervensi dari pencahayaan jalanan di inggris dan amerika serikat, selama 4 dekade, yang menemukan bahwa tingkat kejahatan menurun 21% di daerah yang mengalami perbaikan pada penerangan lampu jalanannya. Laporan ini juga mencatat bahwa penerangan lampu jalanan akan lebih efektif dalam mengurangi kejahatan di inggris daripada di amerka, sebelumnya, telah terjadi penurunan dari 38% menjadi 7%. Peningkatan penerangan di jalan juga diduga mempengaruhi kejahatan dalam dua cara: dengan meningkatkan pengawasan, sehingga menghalangi pelaku potensial, dan oleh menandakan investasi masyarakat dan kebanggaan di daerah. Ulasan ini menemukan bahwa, ketika penerangan jalan diperbaiki, kejahatan malam hari tidak menurun lebih dari kejahatan siang hari, menunjukkan bahwa kebanggaan masyarakat dapat memainkan peran penting. Meningkatnya kebanggaan mengarah kepada kohesi masyarakat dan ‘kontrol sosial informal’ yang dapat melindungi terhadap kejahatan.

Sementara menurut Paul Bogard yang menulis tema yang sama di Bloomberg, menyatakan bahwa tidak ada yang meragukan terkait dengan cahaya buatan yang dapat mengurangi risiko kejahatan ketika kita sedang berada di luar pada malam hari, dan tidak ada yang mengatakan bahwa kita seharusnya ada dalam gelap. Tapi ketika ada anjuran bagi pemerintah untuk harus mengurangi cahaya yang kita gunakan, dan jangan terlalu banyak kecerahan di malam hari, hal ini telah benar-benar mengurangi keselamatan dan keamanan kita. Lampu terang mungkin membuat kita merasa lebih aman. namun, lampu itu tidak benar-benar membuat kita lebih aman.

Pada tahun 2008, PG & E Corp, perusahaan energi yang berbasis di San Francisco, mereview penelitian dan menemukan bahwa “Tidak ada hubungan yang nyata antara pencahayaan dan kejahatan, atau bahwa setiap cara terlalu halus atau kompleks yang telah jelas dalam data.”

Astronom Australia, Barry Clark, malah lebih ekstrem lagi ketika menyimpulkan bahwa “Saran untuk melakukan perbaikan terhadap pencahayaan kota yang berfungsi untuk pencegahan kejahatan, tidak lebih dari pada usaha seperti menganjurkan penggunaan cairan yang mudah terbakar untuk memadamkan api.”

Tidak ada bukti ilmiah yang jelas bahwa peningkatan pencahayaan di kota akan bisa menghalangi atau mencegah kejahatan. Penerangan tersebut mungkin akan membuat kita merasa lebih aman, tapi belum terbukti untuk membuat kita benar-benar lebih aman.

Sebuah studi pada tahun 2015 yang diterbitkan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat menemukan bahwa lampu jalan tidak mencegah kecelakaan atau kejahatan, tetapi malah mengeluarkan uang yang banyak untuk biaya penerangan tersebut. Para peneliti melihat data dari tabrakan lalu lintas jalan dan kejahatan di 62 pemerintah daerah di Inggris dan Wales dan menemukan bahwa pencahayaan tidak berpengaruh.

Menurut penelitian, “Ketika risiko secara hati-hati dipertimbangkan, pemerintah daerah dapat dengan aman mengurangi penerangan jalan agar bisa menghemat biaya dan energi, tanpa harus berdampak negatif pada tabrakan lalu lintas jalan dan kejahatan.”

Menurut sebuah studi pada tahun 2011 dari London street lighting and crime, tidak ada bukti yang baik bahwa peningkatan pencahayaan mengurangi kejahatan Total. ” Penelitian National Institute of Justice menyimpulkan, “Kita memiliki sangat sedikit keyakinan bahwa dengan meningkatkan pencahayaan dapat mencegah kejahatan. ”

Artinya terang itu tidak selalu berarti aman, karena mengacu pada hasil laporan yang dikeluarkan oleh American Medical Association pada tahun 2012 yang menyebutkan bahwa, “Lampu yang terang di malam hari bisa menimbulkan silau yang dapat berbahaya mulai dari ketidaknyamanan terhadap mata hingga kecacatan visual karena terlalu terang.” Tadinya, pencahayaan di jalanan dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di malam hari, tapi bila terlalu banyak pencahayaan malah akan mempunyai efek sebaliknya.

Di Inggris, tiga perempat dari satu juta lampu jalan telah dimatikan untuk menghemat energi, uang dan pemeliharaan. Orang akan berpikir bahwa ini akan membuat mobil terkena dampak sehingga membuat keselamatan pejalan kaki tidak terjamin dan adanya kejahatan; Namun, Alissa Walker dari Gizmodo menunjukan sebuah studi terbaru yang menunjukkan bahwa hal itu membuat sedikit perbedaan, jika ada. Eric Betz dari Astronomy.com (yang memiliki kepentingan pada orang mematikan lampu) terlihat pada penelitian dari University of London:

Peneliti telah melihat selama 14 tahun semua data dari 63 pemerintah daerah di seluruh Inggris dan Wales, kemudian mencari tren di kalangan lembaga yang mengurangi pencahayaan mereka. Tren Itu menunjukkan bahwa kurang dari 1 persen dari semua tabrakan lalu lintas pada malam hari terjadi di jalan-jalan di mana lampu jalanan telah dimatikan. Dan secara keseluruhan, statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kecelakaan dengan peredupan, mengurangi pencahayaan, atau mengubah gaya lampu jalan. Kedua, para peneliti melihat efek pencahayaan pada tren kejahatan. Di daerah yang pencahayaannya kurang, mereka menemukan, bahwa tidak ada peningkatan perampokan, pencurian mobil, perampokan, kekerasan, ataupun kekerasan seksual.

Nah, dengan begini, sekarang lebih jelas bagi kita terkait dengan permasalahan pencahayaan di kota Bandung ini. Apakah Bandung perlu mendapatkan pencahayaan lagi atau dibiarkan seperti sekarang ini, yang pada beberapa tempat pencahayaannya terkesan remang-remang dan redup. Tetapi bila melihat dan mengacu kepada beberapa penelitian yang telah lalu disebutkan, akan tampak beberapa pertimbangan untuk memberikan perhatian kepada daerah tertentu agar mendapatkan pencahayaan yang layak, sementara bila tempat-tempat itu tidak perlu mendapakan penerangan, maka akan lebih bisa untuk menghemat energy dan anggaran pemerintah yang bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Artinya, untuk masalah penerangan ini tidak bisa di samaratakan di semua tempat. 😀

Advertisements

Akal dan Agama yang berkawan

Tidak perlu menjadi Atheis untuk bisa merasakan nikmat segarnya sebuah Iman.

Agama harus bisa menampung segala hal ; nalar, kebenaran, kekritisan, dan karenanya harus bisa menjawab juga semua rasa keingintahuan dari setiap orang yang berkecimpung di dalamnya ataupun yang bukan. entah itu mereka yang menjadikan agama sebagai lahan kajian, untuk ketenangan hidup atau hanya sekedar sebagai kehausan akan ilmu pengetahuan. karena bila tidak, maka kelaut aja deh ! Agama seharusnya memang menjadi sebuah solusi atas kehidupan, kan ? saya meyakini, bahwa (salah satunya) untuk itulah agama ada. bukan justeru malah mengekang akal dan membatasi kebebasan, seminimalnya dalam ranah berpikir.

Karena begini, Seringkali, justeru seorang Atheis lebih faham dan mengerti tentang makna kehidupan dan agama dibanding orang yang setiap harinya beribadah. orang Atheis lebih merasa bebas dalam berpikir dan mampu untuk menolak argumentasi agama yang dirasa tidak sesuai dan cenderung tidak logis. ini bukan masalah apakah agama itu harus masuk akal, tetapi setidaknya dengan pendekatan nalar biasa, seharusnya agama memang mampu dan bisa mengakomodirnya. saya jadi teringat perkataan seseorang yang lebih menjurus kepada pertanyaan, dia bilang ; Apakah harus menjadi atheis terlebih dahulu untuk bisa merasakan kenikmatan iman dan dalam penyembahan terhadap Allah yang nantinya tanpa kepura-puraan ?

Dengan begitu, Hampir tidak ada bedanya antara pikiran Atheistik dan filsapat. Mungkin karena memang dari sananya, bukan islam yang alergi terhadap hal-hal tersebut, tetapi “orang-orangnya” yang seolah mengatasnamakan agama dan bertindak untuk menjadi seakan pahlawan yang menjadi semacam benteng penjaga kemurniaan agama hingga tidak mau agama dimasuki oleh ‘racun’ semacam pikiran Atheistik atau filsapat.

Kita mungkin pernah tahu gonjang-ganjing dan pertentangan antara filsapat dan agama. Kecenderungan muslim (dahulu, dan bisa jadi mungkin untuk sekarang juga) untuk menolak filsapat adalah karena ia merupakan ilmu yang terlalu kritis dan mengedepankan nalar (rasionalitas). Jeleknya filsapat, menurut mereka, karena seseringnya malah hanya membuat keraguan dan kebimbangan yang tidak perlu (?), dan (kalaupun ada) bagusnya, paling banter hanya menghasilkan dugaan dan kebingungan lainnya. kenyataan ini sangat kontras bila melihat kitab suci yang bahkan bisa memberikan jaminan untuk masuk surga (dengan mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya).

Pandangan ortodoks yang lazim di kalangan muslim, seperti juga ortodoksi dalam agama kristen atau yahudi, sebenarnya sederhana ; tidak ada waktu maupun kebutuhan akan filsapat di dunia yang sarat dengan keadilan dan berkah ilahi. Bukankah kitab Allah memuat bimbingan dan pendidikan yang lebih dari cukup untuk umat islam ? atau, selebihnya, mungkin mereka yang mengatasnamakan kaum religius lebih ngeri terhadap dampak dari filsapat itu sendiri, yang bila tidak mampu di bantah oleh argumen agama, maka itu artinya menempatkan agama berada di bawah filsapat itu sendiri. sementara seperti yang kita tahu, agama masih berharap untuk bisa jumawa dan tampil terdepan diatas segalanya, minimal di mata pengikutnya. Tapi, apakah memang agama seperti itu ? seharusnya (anggapan dan keinginan saya), bila agama benar dan mengandung kebenaran, serta bila filsapat adalah benar dan mengandung kebenaran (atau juga mengandung kekeliruan), harusnya bisa berjalan beriringan tanpa ada saling curiga satu sama lain. begitu kah? Oh, ternyata masalahnya tidak sesimpel itu, bung.

Perhatikan saja misalnya argumentasi imam al-Ghazali yang membantah habis-habisan pandangan filosop platonik seperti Ibnu al-Farabi dan Ibnu Sina. meskipun kita menyadari bahwa keberatan imam ghazali bukan terletak pada filsapatnya, tetapi hanya pada sebagian pandangan-padangannya saja yang terlihat rancu dan tidak bisa dipaksakan untuk disamakan dengan islam. konsepsi al-Ghazali berangkat dari pakem agama, dan menggunakan dalih agama (plus sedikit nalar) untuk membuktikan kekacauan filsapat seperti yang tertuang di bukunya, tahafut al-Falasifah (kekacauan Filsapat). beberapa abad setelahnya Ibn Rushd datang untuk mengkoreksi buku tersebut. tetapi, Ibnu Rushd pun tidak membantah semuanya, hanya beberapa yang kelihatannya memang masih kacau dari pandangan al-Ghazali.

Dalam catatan pinggir, Mas Goenawan pernah bilang bahwa menurut para pengkritiknya al-Ghazali menggunakan metode filsapat untuk menghantam filsapat sebab ia tidak menyukai pemikiran bebas. seorang filosop tidak mungkin tunduk pada doktrin. Bahkan Ibn Rushd percaya bahwa filsapat dan agama ibarat dua anak yang disatukan oleh seorang ibu penyusu, dari mana mereka tumbuh sehat.

“It means I believe because it is irrational. If Christianity had appealed to our reason, and not to other sides of us, it would not be a question of faith.” (Sorren Kierkegaard)

Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya, Distorsi sejarah islam (hal 137) menyebutkan bahwa tidak ada pertentangan antara akal dan naql (teks atau wahyu). Karena sesuai dengan teks agama, akal adalah lawan bicara yang dibebani keharusan untuk memahami agama, mengamalkannya, melakukan ijtihad (penarikan kesimpulan hukum) dan berpikir tentang hal yang tidak ada teksnya. akal telah diberi naql atau wahyu hak untuk memikirkan segala hal yang ada di alam semesta dan kehidupan ini. Naql tidak pernah melarang akal untuk melakukan hal tersebut. bahkan, ia menyuruh dan mengajaknya untuk melakukan riset dan inovasi. intinya, dalam peradaban islam tidak pernah terjadi pertentangan antara ilmu dan agama, antara naql dan akal.

Ulama menegaskan bahwa wahyu dan akal adalah dua alat petunjuk untuk mencapai kebenaran. “Dalam ciptaan-Nya, Allah Subhanahu wa ta’ala mempunyai dua utusan :

Pertama, Internal, yaitu akal.
Kedua, Eksternal, yaitu Nabi.

Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil utusan internal tetapi meninggalkan utusan eksternal. utusan internal bisa mengetahui kebenaran utusan eksternal. kalaulah tanpa hal itu, pasti argumentasi Nabi akan ditolak. untuk itulah, Allah mengajak orang yang meragukan keesaan-Nya dan kebenaran utusan-Nya untuk menggunakan akal, yaitu dengan menyuruh orang tersebut untuk minta tolong kepada akal.

Dengan demikian, simpulan dari al-Qaradhawi menyebutkan bahwa akal adalah pemimpin sedangkan agama adalah pendukung. kalaulah tanpa akal, agama tidak akan ada. serta, kalaulah tanpa agama, akal akan menjadi bingung. dengan demikian, keduanya harus berkumpul. Hal serupa ditegaskan oleh imam Ghazali dalam beberapa bukunya, seperti dalam mukadimah ‘Al-Mustashfa’, dia menulis bahwa “Akal adalah hakim yang tidak mungkin bisa dijauhkan dan diganti. sedangkan syariat adalah saksi suci dan adil. Ia menjadikan akal sebagai perahu agama dan pemegang amanat. Dalam Ihya ulum al-Din, al-Ghazali menulis bahwa akal selalu membutuhkan syariat dan juga sebaliknya. “Ilmu-ilmu akal seperti makanan dan ilmu-ilmu syariat seperti obat. Jika obat hilang, orang sakit pasti akan makan makanan.

Karena prinsip Islam seperti watak akidahnya, beriman dan beragama itu dengan kesadaran akal. maka memaksa orang untuk beriman sungguh tidak masuk akal. apalagi menipu orang untuk beriman. prinsipnya bukan credo ut intellegam, seperti doktrin kristen, tapi intellego ut credam. 😀 Nah ini juga mungkin perihal argumentasi agama yang masih kurang sophisticated dan kurang meyakinkan. karena memang berbeda antara dogma dan keimanan. dan dari fundamen islam itu sendiri yang menghendaki untuk mendahulukan ilmu dibanding ketauhidan atau iman itu sendiri.

Intinya, justeru dengan menyatukan antara ilmu, iman dan amal, pada akhirnya kita tidak akan merasa berpura-pura ketika beribadah atau menghambakan diri kepada Tuhan. artinya, karena kita tahu, bahwa dengan begitu kita telah menunaikan apa yang seharusnya ditunaikan, tanpa ada motif atau tujuan lain. Maksudnya, kita tidak lantas menjadikan penderitaan hidup sebagai alasan bahwa kita butuh terhadap Tuhan, kita pun tidak sengaja mengemis-ngemis atau memelas agar hanya untuk dijauhkan dari api neraka, kita tidak pernah seharusnya untuk bertindak seperti itu. karena, lebih jauh dari itu, kita beribadah karena memang kita perlu dan ingin. tanpa ada alasan lain. dan itu memang letak
tantangannya.

Pada akhirnya ibadah sebagai sesuatu yang mempengaruhi hati dengan makna keihklasan inilah yang nantinya akan berhubungan dengan ihsan, yaitu sebuah konsep bahwa kita merasa selalu dipantau dan diawasi oleh Dzat yang Maha Mengawasi. lantas juga ini masih ada hubungannya dengan seperti yang pernah tercantum dalam sebuah hadits Rasul yang mengatakan bahwa sudah seyogyanya terdapat keridhoan ketika beribadah. Karena ibadah yang tidak dilandasi dengan kemurnian niat dan ikhlas, akan berbeda impak dan pengaruhnya dibanding dengan yang ibadahnya ikhlas hanya untuk kepada Allah saja, ..

Mengutip dari al-Quran yang berbunyi : “Sesungguhnya sholat itu sungguh berat (suatu hal yang memayahkan), kecuali bagi orang yang khusyu.”  Dalil ini bisa digunakan hujjah untuk bahwasannya kondisi seseorang yang khusyu menyiratkan bentuk penerimaan yang total dari bagaimana seorang hamba menjalankan ibadah dan proses menghambanya tersebut, tidak ada kepura-puraan dan semuanya murni merupakan ketenangan batin yang di capai melalui proses pelatihan olah jiwa.

Referensi :
1). Etika islam menuju evolusi diri, Faidh al-Kasyani
2). Distorsi sejarah islam, Yusuf al-Qaradhawy
3). Ensiklopedia tematis Filsapat Islam, (Editor) Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Lieman